Hari ini aku di rumah.
Seharian.
Dekat… sangat dekat bahkan.
Tapi entah kenapa, saat malam datang dan semuanya mulai sunyi,
ada satu pertanyaan yang diam-diam mengetuk
“Tadi… aku benar-benar ada untuknya, atau hanya sekadar berada di dekatnya?”
Selama ini aku pikir hadir itu sederhana.
Ada di rumah, menyiapkan makan, menemani bermain, memastikan semua kebutuhan terpenuhi.
Aku pikir itu cukup.
Tapi ternyata, hadir bukan soal tubuh yang berada di satu ruang.
Hadir adalah ketika hati ikut tinggal.
Ketika telinga benar-benar mendengar, bukan sekadar menjawab.
Ketika mata menatap, bukan sambil lalu.
Hadir… adalah utuh.
Nyatanya, tidak selalu begitu.
Seringkali aku ada,
tapi pikiranku sibuk ke mana-mana.
Tentang pekerjaan yang belum selesai,
tentang lelah yang belum sempat reda,
tentang diri sendiri yang diam-diam butuh istirahat.
Anakku bercerita…
aku mengangguk.
Dia memanggil…
aku menjawab, “iya, nanti ya.”
Lalu “nanti” itu berlalu begitu saja.
Di dalam hati, aku tahu aku ingin jadi ibu yang baik.
Yang sabar.
Yang hangat.
Yang benar-benar ada untuk anaknya.
Tapi di waktu yang sama, aku juga lelah.
Dan lelah itu seringkali berubah jadi nada tinggi,
jadi respon seadanya,
jadi kehadiran yang setengah-setengah.
Aku ingin mendengarkan…
tapi aku juga ingin diam.
Aku ingin memeluk…
tapi aku juga ingin sendiri.
Dan di situlah aku mulai merasa bersalah.
Mungkin anakku tidak mengerti semua ini.
Dia hanya tahu:
kadang ibunya menjawab tanpa melihat,
kadang ibunya mendengar tanpa benar-benar mendengarkan.
Dan yang paling menyakitkan untuk disadari—
anak belajar dari itu.
Belajar bahwa ceritanya bisa ditunda.
Belajar bahwa suaranya tidak selalu penting.
Belajar bahwa perhatian itu… tidak selalu utuh.
Sampai suatu hari, aku tersadar.
Bukan dari hal besar.
Hanya dari momen kecil,
ketika dia berhenti memanggilku untuk hal-hal sepele.
Bukan karena dia tidak butuh…
tapi mungkin karena dia sudah terbiasa tidak ditanggapi sepenuh hati.
Dan di situ, hatiku seperti ditarik pelan.
Ternyata, yang hilang bukan waktuku…
tapi kehadiranku.
Aku tidak berubah dalam semalam.
Aku masih lelah.
Masih kadang terdistraksi.
Masih jauh dari kata sempurna.
Tapi aku mulai belajar…
pelan-pelan.
Menaruh ponsel sebentar.
Menatap saat dia bicara.
Mendengar tanpa buru-buru menjawab.
Memberi sedikit waktu yang benar-benar utuh
meski hanya beberapa menit.
Karena mungkin,
yang anak butuhkan bukan ibu yang selalu ada,
tapi ibu yang benar-benar hadir… walau sebentar.
Hari ini, aku masih belajar.
Masih sering gagal juga.
Tapi setidaknya sekarang aku tahu,
hadir bukan tentang kesempurnaan—
melainkan tentang kesadaran.
Bahwa setiap momen kecil itu berarti.
Bahwa setiap panggilan itu penting.
Bahwa masa kecilnya… tidak akan menunggu.
Dan mungkin,
pertanyaan ini bukan hanya untukku.
Hari ini, kita memang bersama anak kita…
tapi apakah kita benar-benar hadir untuk mereka?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar