Seorang ibu dari satu anak laki-laki berusia tiga tahun yang belum bisa tidur tanpa memeluk lengannya.
Orang-orang bilang, Rara beruntung.
Suaminya bekerja.
Anaknya sehat.
Rumahnya kecil, tapi cukup.
Tidak ada yang tahu, betapa sering Rara berdiri di depan pintu… hanya untuk bertanya dalam hati
apa aku masih ingin tinggal di sini?
Rara selalu percaya bahwa menjadi ibu adalah tentang bertahan.
Bertahan saat lelah.
Bertahan saat emosi.
Bertahan bahkan ketika tidak ada yang benar-benar bertanya, “Kamu baik-baik saja?”
Sampai hari itu datang.
Pagi dimulai seperti biasa.
Anaknya menumpahkan susu di lantai. Lagi...
Rara berdiri di depan genangan kecil itu, memegang lap di tangannya, tapi tidak langsung bergerak.
Dia hanya menatap. Diam.
“Maaf, Ma…” suara kecil itu pelan, hampir seperti bisikan.
Biasanya Rara akan langsung tersenyum, bilang tidak apa-apa, lalu membersihkan dengan cepat.
Tapi hari itu, dia cuma mengangguk pelan.
“Iya…”
Singkat.
Datar.
Dia berjongkok, mengelap lantai perlahan.
Gerakannya tidak terburu-buru, tapi juga tidak benar-benar teliti.
Seolah-olah tubuhnya bekerja, tapi pikirannya ada di tempat lain.
Di dapur, piring kotor menumpuk.
Di ruang tengah, mainan berserakan seperti tidak pernah benar-benar dibereskan.
Dan di dalam dirinya sendiri… ada sesuatu yang terasa penuh, tapi kosong di waktu yang sama.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari suaminya.
“Hari ini pulang telat ya.”
Hanya itu.
Rara membaca, lalu mengunci layar tanpa membalas.
Bukan karena marah.
Tapi karena tidak tahu harus merasa apa.
Siang datang perlahan.
Anaknya mulai rewel.
Minta digendong.
Minta ditemani bermain.
Minta hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah terasa berat.
“Ma, lihat ini…”
“Ma, ikut…”
“Iya…” jawab Rara lagi.
Tapi matanya tidak benar-benar melihat.
Tangannya tidak benar-benar bergerak.
Dan di situlah, rasa bersalah mulai muncul.
Pelan dan
Menggigit.
Kenapa aku jadi ibu yang kayak gini?
Kenapa aku capek terus?
Rara duduk di lantai, bersandar di sofa.
Menatap ke depan tanpa fokus.
Anaknya masih bermain di dekatnya.
Sesekali tertawa kecil.
Sesekali memanggil.
Dan untuk pertama kalinya, suara itu tidak terasa menghangatkan.
Justru terasa jauh.
Seperti dia sedang melihat hidup orang lain.
Rara menarik napas panjang.
Lalu menghembuskannya pelan.
Entah dorongan dari mana, dia berdiri.
Langkahnya menuju kamar terasa ringan… terlalu ringan untuk sesuatu yang sebenarnya berat.
Dia mengambil tas kecil.
Mengisinya tanpa banyak pikir.
Dompet.
Ponsel.
Kunci.
Tidak ada baju ganti.
Tidak ada rencana.
Dia bahkan tidak tahu akan ke mana.
Yang dia tahu hanya satu
dia ingin keluar.
Saat kembali ke ruang tengah, anaknya sedang duduk di lantai, menyusun balok warna-warni.
Tenang.
Fokus.
Rara berhenti sejenak.
Menatap punggung kecil itu.
Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadanya.
Ragu.
Tapi kali ini, dia tidak ingin mendengarkan terlalu dalam.
Kalau dia mulai berpikir… dia tahu, dia mungkin tidak akan jadi pergi.
Jadi dia melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Membukanya perlahan.
“Ma?”
Suara itu datang.
Lembut.
Biasa saja.
Seperti panggilan setiap hari yang sering dia dengar tanpa berpikir.
Rara menutup matanya sebentar.
Kalau dia menoleh sekarang… semuanya bisa berubah.
Dan entah kenapa, hari ini dia tidak ingin berubah pikiran.
Jadi dia tetap melangkah keluar.
Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Udara luar terasa berbeda.
Lebih luas.
Lebih sunyi.
Rara berjalan tanpa arah.
Sampai akhirnya dia duduk di sebuah bangku kecil di pinggir jalan.
Tidak ada yang memanggil.
Tidak ada yang menarik bajunya.
Tidak ada yang meminta apa-apa.
Harusnya ini yang dia butuhkan, kan?
Tapi anehnya… tidak terasa seperti yang dia bayangkan.
Sepi, iya.
Tenang, iya.
Tapi juga… kosong.
Rara membuka ponselnya.
Layar menyala, menampilkan foto anaknya sebagai wallpaper.
Wajah kecil itu sedang tertawa.
Mulutnya terbuka lebar.
Rara menatap lama.
Dadanya terasa sesak bukan karena rindu yang tiba-tiba datang,
tapi karena sebuah pertanyaan yang pelan-pelan muncul… dan tidak bisa dia hindari.
Kalau aku benar-benar pergi… apa dia akan baik-baik saja?
Rara menelan ludah.
Atau… justru dia akan belajar berhenti memanggilku?
Pikirannya mulai berisik.
Lebih berisik dari tangisan tadi pagi.
Ia membayangkan anaknya berdiri di depan pintu.
Menunggu.
Seperti biasa.
Tapi kali ini… lebih lama.
Sampai akhirnya berhenti berharap.
Rara menggenggam ponselnya lebih erat.
Apa aku ibu yang jahat?
Pertanyaan itu datang tanpa izin.
Dan tidak memberi ruang untuk menghindar.
Selama ini dia selalu merasa tidak cukup.
Tidak cukup sabar.
Tidak cukup perhatian.
Tidak cukup baik.
Tapi sekarang…
untuk pertama kalinya, dia takut
bukan karena dia tidak cukup,
tapi karena dia hampir memilih untuk tidak ada.
Air matanya jatuh pelan.
Dia cepat-cepat mengusapnya,
seolah-olah ada yang melihat.
Padahal tidak ada siapa-siapa.
Dan justru di situlah yang membuat semuanya terasa lebih berat
tidak ada yang menahannya.
tidak ada yang melarangnya pergi.
Dia bebas.
Tapi kebebasan itu… tidak terasa seperti kebebasan.
Lebih seperti kehilangan arah.
Rara menunduk.
Napasnya mulai tidak teratur.
Untuk pertama kalinya hari itu, dia tidak ingin diam.
Dia ingin kembali mendengar suara kecil yang tadi terasa mengganggu.
Ingin ada yang menarik bajunya.
Ingin ada yang memanggilnya,
bahkan kalau itu berarti dia harus kembali merasa lelah.
Karena ternyata…
lelah sebagai ibu
masih lebih mudah ditanggung.
Dia berdiri dan melangkah
Langkahnya kali ini berbeda.
Tidak tergesa.
Tidak juga ragu.
Saat sampai di depan rumah, dia diam sebentar.
Menarik napas.
Lalu membuka pintu.
Di dalam, anaknya masih di lantai.
Baloknya belum berubah banyak.
Begitu melihat Rara, wajah kecil itu langsung cerah.
“mamaaaa”
Dia berlari kecil.
Rara berlutut.
Membuka tangan.
Dan kali ini, dia benar-benar hadir saat memeluk.
Bukan setengah.
Bukan sambil memikirkan hal lain.
“Maaf ya…” bisiknya pelan.
Anaknya tidak menjawab.
Hanya memeluk lebih erat.
Dan itu… sudah cukup.
Hari itu, Rara memang sempat pergi.
Tapi dia pulang dengan sesuatu yang baru
bukan rumah yang berubah,
bukan anaknya yang berubah…
tapi cara dia melihat dirinya sendiri.
Bahwa menjadi ibu bukan tentang selalu kuat.
Dan pergi sebentar bukan berarti menyerah.
Kadang, itu hanya cara untuk mengingat
bahwa kita juga manusia
yang berhak berhenti sejenak…
supaya bisa kembali dengan hati yang lebih utuh.
Karena pada akhirnya, bukan rumah yang menahan seorang ibu untuk tetap tinggal
tapi ada wajah kecil… yang percaya ia akan selalu kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar