Ada kalimat yang tidak pernah benar-benar selesai dibaca.
Ia tidak berhenti di halaman buku, tidak pula tinggal di masa lalu.
Ia seperti napas yang terus berpindah
dari satu dada ke dada yang lain.
“Habis gelap terbitlah terang.”
Kalimat itu lahir bukan dari hidup yang lapang,
melainkan dari ruang yang sempit,
dari langkah yang dibatasi,
dari hari-hari yang berjalan tanpa banyak pilihan.
Ia pernah ditulis oleh Raden Ajeng Kartini
seorang perempuan yang mungkin tidak bisa pergi jauh,
tetapi pikirannya melampaui dinding yang mengurungnya.
Aku sering membayangkan,
bagaimana rasanya hidup di dalam gelap yang tidak bisa ditinggalkan.
Bukan gelap yang menakutkan,
tetapi gelap yang perlahan membuat seseorang terbiasa diam.
Gelap yang tidak melukai tubuh,
tapi menahan mimpi agar tidak tumbuh terlalu tinggi.
Kartini tidak merobohkan dinding itu dengan tangan.
Ia menembusnya dengan pikirannya.
Dengan kata-kata yang pelan,
tapi tidak pernah benar-benar padam.
Dan dari sana, kita belajar
bahwa terang tidak selalu datang dari luar.
Kadang, ia harus dijaga dari dalam,
seperti api kecil yang terus dihidupkan
meski angin berkali-kali mencoba memadamkannya.
Hari ini, kita hidup di dunia yang terlihat lebih terang.
Perempuan bisa berjalan lebih jauh,
belajar lebih tinggi,
dan berbicara lebih lantang dari sebelumnya.
Namun, ada hal-hal yang tidak berubah sepenuhnya.
Masih ada perempuan
yang mimpinya berhenti di tengah jalan.
Bukan karena ia tidak mampu,
tapi karena keadaan memintanya untuk mengalah.
Masih ada yang harus memilih
antara menjadi dirinya sendiri
atau menjadi apa yang diharapkan dunia.
Masih ada yang terlihat kuat,
padahal diam-diam sedang merapikan retaknya sendiri
agar tidak terlihat oleh siapa-siapa.
Dan di titik itu, aku mulai mengerti
bahwa gelap tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya berganti bentuk.
“Tidak semua yang tampak terang
benar-benar tanpa bayang.”
Perjuangan Kartini tidak selesai pada namanya.
Ia tidak berhenti pada buku,
atau pada hari yang diperingati setahun sekali.
Ia berpindah.
Masuk ke dalam hidup yang paling sederhana.
Pada perempuan yang tetap bangun pagi
meski semalam hatinya runtuh.
Pada ibu yang menyimpan mimpinya sejenak,
bukan untuk dilupakan,
tapi untuk dirawat diam-diam.
Pada perempuan yang belajar berkata “tidak”,
setelah terlalu lama berkata “tidak apa-apa”.
Perjuangan hari ini mungkin tidak lagi tentang melawan aturan,
tetapi tentang tidak kehilangan diri sendiri
di tengah semua yang harus dijalani.
Dan itu tidak mudah.
Karena menjadi perempuan,
sering kali bukan tentang menjadi kuat
melainkan tentang tetap berjalan
meski tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk jatuh.
“Ada yang tetap hidup,
bukan karena tidak lelah,
tetapi karena belum selesai mencintai harapannya.”
Lalu, bagaimana kita meneruskan apa yang pernah ia mulai?
Mungkin bukan dengan menjadi luar biasa.
Mungkin tidak juga dengan hal-hal besar yang terlihat.
Tetapi dengan hal-hal kecil yang jujur.
Dengan tetap belajar,
meski waktu terasa sempit.
Dengan tidak saling menjatuhkan,
di dunia yang sering kali membuat perempuan saling dibandingkan.
Dengan memberi ruang
pada diri sendiri,
dan pada perempuan lain
untuk menjadi, tanpa harus selalu sempurna.
Karena mungkin,
meneruskan perjuangan itu bukan tentang seberapa jauh kita melangkah,
tetapi tentang bagaimana kita tidak berhenti berjalan.
“Habis gelap terbitlah terang”
bukan janji bahwa hidup akan selalu sampai pada cahaya.
Ia adalah keyakinan
bahwa di dalam gelap sekalipun,
cahaya tetap bisa lahir.
Pelan.
Kecil.
Tapi cukup untuk membuat seseorang
tidak kehilangan arah.
Dan hari ini,
mungkin kita masih berjalan di antara gelap dan terang itu.
Masih belajar,
masih ragu,
masih kadang ingin berhenti.
Tidak apa-apa.
Karena selama kita masih melangkah,
sekecil apa pun itu,
cahaya itu sedang kita bawa.
Selamat memperingati Hari Kartini.
Semoga kita tidak hanya menunggu terang datang, tetapi berani menjaganya tetap hidup di dalam diri, di dalam mimpi, dan di dalam langkah yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar